Feeds:
Pos
Komentar

Grafika Utama Printing

Your Printing Solution

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang percetakan di bawah bendera PT Pustaka Indonesia Press Jakarta. Merupakan percetakan komersial yang menawarkan konsep ­one-stop-shop bagi kebutuhan cetak Anda. Didirikan oleh profesional yang telah berkecimpung dalam dunia penerbitan dan percetakan. Kami menawarkan berbagai layanan percetakan, mulai dari:

Desain & Creative

Team kreatif kami akan bekerja secara detail membantu Anda mulai dari pembuatan konsep, desain grafis, tata letak perwajahan hingga final artwork/mock-up, sehingga setiap pesan yang ingin Anda sampaikan dalam promosi dan publikasi tersebut akan dapat disampaikan secara utuh, tepat sasaran dan profesional.

Print on Deman / Digital

Tersedia Canon imagePRESS, Xerox Phaser dan Konica Minolta bizhub untuk segala kebutuhan print on deman Anda. Berapa pun oplah yang dibutuhkan, kami mampu melayani.

Offset Printing

Kami menggunakan mesin cetak yang telah dilengkapi dengan sistem komputerisasi, dan didukung operator cetak yang berpengalaman sehingga mampu memberikan hasil cetak terbaik dan dengan harga yang kompetitif di kelasnya.

Large Format Printing

Untuk keperluan cetak large format, kami melayani keperluan cetakan Anda seperti Outdoor & Indoor, X-banner, Roll Banner, poster, spanduk digital, dl.

Binding & Finishing

Menyediakan berbagai finishing mulai dari lipat, porong, nomorator, jilid bending, warpping buku, laminating dov, glossy, spot uvy, vanrish dan emboss, dll.

Menerima Cetakan

* Buku

* Cover Buku

* Jurnal

* Note Book / Agenda

* Kalender

* Sticker

* Brosur

* Poster dan Liflet

* Kartu Nama

* Spanduk, X-Banner, dll

* Dan lain-lain

Bagi KAMI, menghasilkan yang terbaik dan berkualitas bagi ANDA menjadi barometer sukses usaha kami.

Bagi Anda yang memerlukan konsultasi, jangan ragu-ragu menghubungi kami di:

Telp. 021.83316695  [via sms: 085.880.172.111]

Jl. Kepu Dalam IV No 166 Kemayoran Jakarta Pusat 10620 Indonesia

Email: redaksipip@gmail.com

Jurnal Logos Spectrum Volume VI Nomor 2 April – Juni 2011

yang diterbitkan oleh Jurusan Sosiologi FISIP Unsrat Manado kerjasama Media Pustaka

Berharap

“Dalam segala hal, berharap selalu lebih baik daripada putus asa.” Johann Wolfgang von Goethe (1749–1832), sastrawan dan novelis Jerman

Kata-kata

“Kata-kata yang baik tidak memerlukan biaya besar, tapi bisa menyelesaikan banyak soal.” Blaise Pascal (1623–1662), matematikawan dan filsuf Prancis

Kahlil Gibran

“Kemurahan hati memberi hal yang lebih dari yang Anda dapatkan, dan kebanggaan mengambil sedikit dari yang Anda butuhkan.”
(1883–1931), pujangga dan novelis kelahiran Lebanon

Daya Saing RI Masih Jauh Dibawah Malaysia
Suhendra – detikFinance
Minggu, 12/09/2010 11:00 WIB

Jakarta – Meski Indonesia mengalami kenaikan peringkat daya saing (Global Competitiveness Report/GCR) 2010-2011. Namun jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Thailand apalagi Singapura, daya saing Indonesia masih jauh tertinggal.

Berdasarkan laporan GCR 2010-2011 yang dilansir oleh World Economic Forum (WEF) yang berkantor di Jenewa, Swiss.
Daya saing Indonesia naik menjadi posisi 44 dari 144 negara dengan skor 4.43 dari posisi sebelumnya tahun 2009-2010 yaitu posisi 54. Indonesia sendiri berada dibawah langsung negara Barbados yang menempati posisi 43 dengan skor 4.45.

Daya saing negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia menempati posisi 26 dengan skor 4.88 atau turun dari GCI 2009-2010 yaitu posisi 24.
Negara tetangga Indonesia lainnya yaitu, Thailand berada di posisi 38 dengan skor 4.51 atau turun dari posisi 36.  Brunai Darussalam masih diatas angin, posisi negara kerajaan ini menempati posisi 28 dengan skor 4.75 atau naik dari posisi sebelumnya yang hanya 32.

Sementara posisi Indonesia dengan negara Singapura terpaut sangat jauh, Singapura berada di posisi 3 dengan skor 5.48 bersaing ketat dengan Swedia yang menduduki posisi 2 yang sebelumnya di posisi 4 dan Swiss menduduki posisi 1 dengan skor 5.63, tetap bertahan dari tahun lalu.

Meski masih kalah dengan beberapa negara ASEAN lainnya, posisi Indonesia masih unggul dengan Vietnam yang menempati posisi 59 dengan skor 4.27, Vietnam mencatatkan sebagai negara yang  melejit cepat daya saingnya. Vietnam naik peringkat dari posisi sebelumnya yaitu di level 75.

Sementara posisi Filipina berada di level 85 dengan skor 3.96 atau naik dari posisi sebelumnya 87. Negara baru lahir, Timor Leste berada di posisi 133 dengan skor 3.23 atau turun dari posisi 126.

Posisi Indonesia yang berada di ranking 44 dan merupakan salah satu negara dengan prestasi terbaik daya saingnya, yang naik peringkat sebanyak 10 tingkat. Kenaikan peringkat ini terutama disebabkan oleh kondisi makro ekonomi yang sehat serta perbaikan pada indikator pendidikan.

Indonesia berhasil mempertahankan kondisi makro ekonomi yang sehat  bahkan di saat krisis ekonomi tengah berlangsung. Keberhasilan ini membawa Indonesia naik 18 peringkat dari sisi kesehatan makroeknomi ke posisi 34, ketika banyak negara mengalami defisit budget anggaran.

Terlepas dari kekurangan dan keunggulan dari negara-negara ASEAN lainnya, salah satu yang patut menjadi perhatian adalah kondisi infrastruktur Indonesia masih berada di posisi 82, mengenai jalan  berada di posisi 84 dan ketersediaan pasokan listrik di posisi 97.

Selain infrastruktur, hal lain yang juga harus diperhatikan adalah makin memburuknya kondisi kesehatan terutama yang berkaitan dengan tuberculosis (TBC), malaria dan tingginya angka kematian bayi yang  merupakan yang tertinggi di dunia.  Hal terakhir yang perlu diperhatikan juga oleh Indonesia adalah tingkat penggunaan ICT (informasi Komunikasi Teknologi) yang masih tetap rendah yaitu  di posisi 103.

Perwakilan Indonesia, yaitu Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu telah dipilih menjadi founding member Advisory Board on Global Competitiveness WEF. Sebagai anggota Advisory Board (dewan penasehat), Mari memberikan masukan dalam GCR yang dikeluarkan setiap tahun oleh WEF. (hen/hen)

http://www.detikfinance.com/read/2010/09/12/110059/1439384/4/daya-saing-ri-masih-jauh-dibawah-malaysia

Titiap Pengabdian Airin Rachmi Diany

By M. Isnaeni

Kita patut bersyukur karena telah diberi anugerah terbesar oleh Sang Pencipta. Anugerah terbesar yang pernah kita terima adalah kehidupan. Memang sulit untuk mengerti misteri Ilahi, namun cukuplah bagi kita untuk menyadari bahwa Allah pasti mempunyai rencana indah pada kehidupan setiap insan manusia.

Hidup bagaikan aliran air. Sifat alami air adalah selalu membentuk garis keseimbangan. Di mana pun ia berada. Bahkan gerakan air yang mengalir adalah perjalanan untuk mencapai keseimbangan baru. Yang tak dapat dihindari, dalam perjalanannya aliran air tak luput dari benturan-benturan. Kadangkala benturan itu dapat membelokkan arah perjalanan, memusingkannya, membelahnya menjadi sungai atau menjatuhkannya dengan keras yang ditingkahi dengan percikan berpelangi. Namun semua itu tetap berjalan pada khitahnya: mencari keseimbangan baru.

Begitulah kita memandang hidup ini. Seperti air yang mengalir. Seperti halnya dengan kiprah pengabdian bagi sosok perempuan yang bernama lengkap Hj. Airin Rachmi Diany, SH., MH., tak ubahnya aliran air, yang kadang harus berbenturan bebatuan keras dan terpaksa bergumul mencari arah baru. Sehingga beragam lekukan hidup harus ia alami. Berubah arah dan selalu berubah. Perubahan aliran itu, walau seringkali tidak mudah, kalau kita sadari adalah hal baik. Oleh karena itu, berubah menjadi lebih baik merupakan harapan kita semua.

Wujud Fastabiqul Khairat

Di balik kebersahajaan, Airin—begitu ia sering disapa, ia adalah sosok yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang notaris dan pejabat pembuat akta tanah, wanita kelahiran Banjar, Jawa Barat 28 Agustus 1976 itu masih menyempatkan diri aktif dalam berbagai kegiatan sosial-kemasyarakatan terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, keagamaan, lingkungan dan kegiatan sosial kemanusiaan lainnya.

“Berlomba-lomba dalam kebaikan.” Ajaran Islam itu terus dipegang teguh Hj Airin Rachmi Diany. Maka tak heran jika ia berkiprah dan mendedikasikan dirinya dalam beragam kegiatan positif, seperti membina pramuka, donor darah, bimbingan belajar, taman bacaan masyarakat, peduli lingkungan, pemanfaatan sampah plastik hingga membina majelis taklim.

Ketertarikannya dalam berbagai kegiatan itu merupakan bentuk fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Menurut Airin, kepeduliannya untuk berkiprah dan membangun lewat beragam organisasi dan aktivitas merupakan salah satu pesan yang selalu diajarkan dan ditanamkan kedua orangtua dan kakek-neneknya.

“Selain itu, sejak saya kecil kedua orang tua juga selalu mengajarkan bahwa tangan kita harus selalu di ‘atas’ (memberi),” ungkapnya. Dengan niat ber-fastabiqul khairat, Airin berharap, berbagai aktivitas yang dilakukannya bisa memberi manfaat untuk keluarga serta lingkungan di sekitarnya.

Hal tersebut ia lakukan dengan penuh ketulusan dan hati yang ikhlas untuk kebaikan, kebersamaan dan kemajuan daerah. Airin adalah sosok yang punya kemauan dan kemampuan yang tinggi untuk membangun kemaslahatan umat manusia.

Sejak Kecil Aktif Organisasi

Berasal dari keluarga yang harmonis dan religius, atas perkawinannya dengan H TB Chaeri Wardana, ia dikaruniai dua orang anak yaitu TB Ghifari Al Chusaeri Wardana (12 tahun) dan Ratu Ghefira Marhamah Wardana (6 tahun). Airin mengaku sudah senang dengan kegiatan organisasi kemasyarakatan, sejak kecil. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia sudah aktif di kegiatan pramuka.

Ketika menimba ilmu di bangku SMP, kemampuan berorganisasinya mulai diasah lewat Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan Pramuka. Selain aktif di OSIS, pada saat SMA, Airin juga tergabung dalam kelompok elite siswa, yakni Paskibraka.

“Saat kuliah pun, saya aktif di Senat Mahasiswa sekarang dikenal dengan  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM),” papar mantan Putri Pariwisata tahun 1996 itu. Lalu bagaimana  Airin mengisi hidupnya?  Menurut dia, manusia tidak bisa hanya mencari dunia saja, tapi harus ada keseimbangan di antara semua aktivitas kita sehari-hari. “Dunia dan akhirat harus seimbang,” tegasnya.

Keluarga Nomor Satu

Sebagai seorang notaris, PPAT, dan Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (INI) Kota Tangsel, Airin memiliki jadwal kegiatan yang cukup padat. Namun Airin tidak pernah menjadikan keluarga sebagai nomor 2. Terutama perhatian terhadap anaknya. TB. Ghifari Al Chusaeri Wardana dan Ratu Ghefira Marhamah Wardana. Airin mengaku sangat menyayangi mereka dan ingin terus menanamkan pendidikan akhlak di usia dini yang dinilai sangat penting.

“Menanamkan akhlak pada usia dini sangat penting. Sebagai seorang ibu, saya merasa berkewajiban untuk memperhatikan mereka agar anak-anak bisa tumbuh menjadi generasi yang sehat jasmani dan rohani,” ungkap Airin yang juga diamanahi sebagai Ketua Forum Peduli Pendidikan dan Kesehatan Kota Tangsel.

Airin tak segan merubah jadwal kegiatan untuk menemani dan melihat langsung pertumbuhan anaknya. Oleh beberapa kalangan, Airin juga dinilai mewakili sosok generasi baru yang muda, cerdas dan peduli. Dalam usia 30 tahun sudah selesai pendidikan Spesialis Notariat dan Pascasarjana S2 Bidang Hukum Bisnis di Universitas Padjadjaran Bandung.

Belakangan, Dewan Pembina KNPI Kota Tangsel ini juga aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan hidup. Airin kerap terlihat dalam berbagai kegiatan penghijauan dan kegiatan lainnya untuk pelestarian alam. Airin menilai, berbagai permasalahan, lingkungan tidak perlu terjadi jika semua masyarakat peduli.

Ingin Bermanfaat Bagi Sesama

Bagi Airin, hidup yang bermakna adalah hidup yang bermanfaat untuk orang banyak dan membahagiakan. Itulah yang membuatnya asyik dan menikmati aktivitasnya di bidang sosial. “Kedua orang tua memberi bimbingan dan teladan yang sangat baik agar saya bisa aktif di lingkungan. Selain kedua orang tua, juga kakek nenek saya sangat mendorong untuk bisa bermanfaat untuk lingkungan,” ujarnya. Airin mencoba menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

Sejak kecil, Airin mengaku digembleng dalam keluarga yang sangat religius. Ayahnya, Anwar Martadiharja, adalah seorang dosen. Sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Sejak usia tujuh bulan, ia tinggal dengan kakek-neneknya di Banjar, Ciamis, Jawa Barat, sampai dengan kelas dua SMP.

Dalam binaan kakek-neneknya, Airin sejak kecil telah diajarkan kemandirian. “Dari kecil, saya dididik secara agamais. Saya ingat sekali, setiap hari selama satu jam setelah maghrib hingga Isya saya mengaji. Alhamdulillah saya sudah khatam Alquran sampai ke tajwidnya,” ujar Airin.

Airin tercatat sebagai remaja yang kreatif dan sarat prestasi sejak di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ia pernah terpilih menjadi Anggota Paskribaka tahun 1992, Mojang Parahyangan Kodya Bandung tahun 1995, Mojang Parahyangan Jawa Barat tahun 1995, putri Pariwisata dan putri Favorit pada pemilihan putri Indonesia tahun 1996.

Berkat pendidikan dari kedua orang tua serta kakek-neneknya, ia bisa menapaki hidup dalam keseimbangan. Pendidikan yang ditanamkan kedua orangtua dan kakek neneknya, kini ditransferkan  kepada kedua buah hatinya.

Ia selalu menanamkan kepada buah hatinya untuk berbagi dengan orang lain. Pada saat-saat tertentu, Airin pun mengajak kedua anaknya ke tempat kerja dan berbagai kegiatan sosial. “Mudah-mudahan apa yang saya lakukan bisa menjadi cerminan buat anak-anak kelak,” tuturnya.

Sebagai wanita yang lahir di dalam keluarga yang berlatar belakang punya jiwa sosial. Airin mengaku sudah sejak kecil dirinya memang suka dengan aktivitas sosial. Tak heran jika sudah berkeluarga Airin lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya untuk membantu masyarakat di sekitarnya. “Dari dulu saya suka dengan kegiatan sosial jadi hidup saya ingin lebih bermakna dan berarti jadi hidup saya bukan hanya untuk saya tapi juga keluarga dan masyarakat, khususnya mungkin masyarakat yang ada di sekitar saya,” ujarnya.

“Yang saya lakukan hal terkecil adalah kita peduli dan perhatian misalnya dengan tetangga, hal terbesarnya adalah mungkin dengan di PMI kita berbagi dengan masyarakat tentang hal-hal kemanusiaan ataupun dengan organisasi saya yang lainnya,” lanjutnya.

Waktu adalah Emas

Airin memiliki pandangan hidup yang visioner dan jauh ke depan. Baginya waktu adalah emas. Ia tak pernah menyia-nyiakan waktu tanpa mengerjakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan. Maka sesibuk apapun ia bekerja, Airin tak pernah mengeluh sepanjang apa yang dia kerjakan dapat bermanfaat. ”Jangan pernah mencela apa yang telah dikerjakan orang lain dengan susah payah. Lebih baik berilah penghargaan, nasehat, saran atau memberi contoh yang lebih baik,” kata Airin.

Airin lebih suka mendengar dari pada banyak bicara. Senyum khasnya seringkali mewarnai banyak aktivitas. ”Senyum adalah alat komunikasi yang baik,” ujarnya. Senyum tidak hanya menampilkan wajah yang cerah, namun juga menghangatkan jiwa. Ya, senyum memang shodaqoh, demikian sabda Rasulullah. Dan Airin telah berhasil menjadikan senyum sebagai wahana komunikasi lintas batas, lintas generasi dan lintas budaya.

Buku Sumber Inspirasi

“SEBUAH buku selalu bisa mendatangkan inspirasi.” Itulah jawaban Airin Rachmi Diany, ketika ditanya mengenai arti sebuah buku untuk dirinya. Sejak kecil, ia tidak pernah terpisahkan dari buku. Dahulu, Airin sangat menggemari buku bergambar, terutama komik. Pertambahan usia dan kematangan kemudian membawa Airin pada kegemaran terhadap buku-buku pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan terutama buku tentang hukum sesuai dengan profesi yang ditekuninya saat ini yaitu notaris dan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah).

Airin kerap memanfaatkan kesempatan untuk membaca walau sebentar, di tengah aktivitasnya yang padat. Kegemaran Airin membaca turut membentuk minat baca yang tinggi kepada kedua anaknya Tb. Ghifari Al Chusaeri Wardana dan Ratu Ghefira Marhamah Wardana. Hampir setiap akhir pekan, Airin meluangkan waktu untuk menemani keduanya mencari buku bacaan baru. “Saya (tidak membatasi buku yang mereka minati. Asalkan bermanfaat, edukatif, dan bisa menambah pengetahuan mereka,” ujar Airin.

Ketua PMI Kota Tangsel ini juga memaklumi jika anak-anaknya masih menggemari buku bergambar. Membaca menurut Airin  dapat memotivasi dan melatih kerja otak untuk berpikir. Kecerdasan dan pendidikan merupakan modal penting untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik dan sejahtera. Oleh karena itu, budaya membaca harus ditumbuhkan sejak dini. Dengan dasar itupula, ia menggagas berdirinya taman-taman bacaan. Airin berharap, budaya membaca berkembang pesat di Tangsel, terutama dengan adanya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang kini akan terus dikembangkan.

Abdikan Diri Untuk Kegiatan Sosial

Kalau banyak orang ingin jadi selebriti, juara favorit dan putri Pariwisata dalam kontes Putri Indonesia 1995, Airin Rachmi Diany malah tidak tergiur sama sekali. Kesempatan jadi orang tenar ditinggalkannya demi membantu sesama di lingkungannya. Saat ditemui KapanLagi.com di Sebuah Café di Senayan City Jakarta pada 17 April 2010, ibu dua anak ini menjelaskan dirinya mengikuti kontes Putri Indonesia pada waktu itu, hanya untuk mengisi waktu masa mudanya saja.

Keikutsertaanya di ajang kontes kecantikan, bagi Airin hanya sebagai upaya melakukan hal yang positif dalam hidupnya. “Kalau entertain pada waktu itu, saya ikut Putri Indonesia, mojang Periangan ataupun yang lainnya. Niatan saya pada waktu itu adalah saya ingin mengisi masa muda saya dengan hal-hal yang positif. Saya ikut lomba itu saya rasa itu adalah yang positif karena itu meningkatkan percaya diri saya dan bisa memberikan manfaatnya pada saat itu,” ujarnya.

Airin juga bersyukur bisa dekat dengan komunitas yang peduli lingkungan. Berkat kesadarannya akan pentingnya menjaga lingkungan yang sudah mulai rusak, Airin pun aktif dalam gerakan peduli lingkungan hidup.

“Bagaimana kita menghemat energi, menanam pohon kembali. Bagaimana kita bisa memanfaatkan sampah, sehingga tidak terjadi penumpukan sampah. Lebih dari itu, bagaimana kita mampu memanfaatkan sampah plastik agar bisa di daur ulang,” paparnya.

Berbagai kepedulian di bidang lingkungan yang dia cetuskan dalam menata Kota Tangsel Rumah Kita Bersama merupakan wujud nyata kepedulian Airin terhadap kondisi bumi saat ini. Inisiasi penanaman sejuta pohon di Kota Tangsel menjadi bukti kepedulian Airin terhadap lingkungan. Airin juga terus menggembar-gemborkan kampanye Go Green (penghijauan), terutama penanganan masalah sampah. Selain melakukan pelatihan-pelatihan daur ulang sampah menjadi barang berharga kepada para pemuda di Tangsel, Airin juga mengimplementasikannya dengan memberikan sejumlah mesin daur ulang sampah kepada masyarakat.

Tak sampai di situ, terkait permasalahan sampah plastik yang bisa merusak keberlangsungan bumi, Airin juga mewujudkan kepeduliannya dengan membagi-bagikan kantong non plastik kepada masyarakat. Seperti diketahui, sampah plastik merupakan sampah yang susah terurai. Butuh ratusan bahkan ribuan tahun agar sampah plastik itu bisa mengurai dengan tanah.

Kemudian, ide Airin mengenai lingkungan juga dicetuskan dengan mengajak masyarakat agar membuat lubang resapan biopori (LRB). Biopori ini merupakan alternatif untuk mendapatkan air dengan kualitas baik. “Sudah saatnya kita menjalankan program go green (penghijauan) dengan mengurangi sampah, berhemat dalam menggunakan kemasan dan membiasakan diri membawa tas daur ulang. Ini merupakan hal ringan yang mudah dan dapat kita lakukan, asal kita memiliki komitmen kuat untuk mengurangi dampak pemanasan global. Ini demi generasi penerus kita tentu bumi harus tetap kita jaga!” tandas Airin.

Sejauh ini, Airin mengaku belum cukup membantu masyarakat meski tak terhitung kegiatan sosial yang telah digagasnya di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangsel. Dalam beberapa tahun terakhir saja, Airin terlihat hadir membantu pengobatan gratis, pemberantasan demam berdarah, pesantren dan mejelis taklim, kegiatan olahraga pemuda, dan banyak lagi.

Tokoh Generasi Plural // <![CDATA[// <![CDATA[

/*

Kota Tangerang Selatan (Tangsel) pantas disebut atau dijuluki sebagai miniatur Indonesia. Keragaman etnis dan budaya masyarakat di Kota Tangsel merupakan modal sosial (social capital) yang sangat urgen untuk menata Kota Tangsel ke depan. Selain keragaman etnis dan budaya, masyarakat Kota Tangsel juga memiliki keragaman agama atau kepercayaan. Semua agama-agama besar ada di Kota Tangsel seperti Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Hindu hidup secara berdampingan dan senantiasa menunjukkan toleransi dan saling menghargai satu sama lain.

Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang No 51 tahun 2008 kini telah memiliki Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) berdasarkan surat keputusan Walikota Tangsel Nomor: 220/Kep.260-Huk.Org/2009. Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) adalah wadah informasi, komunikasi, konsultasi, dan kerjasama antara warga masyarakat yang diarahkan untuk menumbuhkan, memantapkan, memelihara dan mengembangkan pembauran kebangsaan.

Seperti yang kita ketahui etnis masyarakat yang ada di Kota Tangsel sangatlah beragam, mulai dari etnis Betawi, Sunda, Jawa, Tionghoa, Batak, dan yang lainnya ada di Kota Tangsel. Hal ini dikarenakan banyaknya kaum urban yang menempati Kota Tangsel. “ Dengan adanya perbedaan latar belakang budaya yang ada di Kota Tangsel ini, maka banyak potensi yang bisa dijadikan modal untuk menata Kota Tangsel,” tutur Hj. Airin saat ditemui pada acara Pelantikan dan Raker Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Tangsel di  Puri Laguna Komplek Witana Harja Kav. A.1 Kecamatan Pamulang Kota Tangsel pada 15 April 2010.

Hj. Airin Rachmi Diany juga mengajak kepada masyarakat Kota Tangsel untuk senantiasa menjaga dan memelihara keutuhan persatuan dan kesatuan antar berbagai etnis yang ada di Kota Tangsel. “Keragaman nilai-nilai sosial budaya harus kita jaga dan dikembangkan untuk mencegah disintegrasi, memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat di Kota Tangsel,” ajaknya.

Pada kesempatan itu  Airin  yang saat ini menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangsel mendapat penghargaan sebagai “Tokoh Generasi Plural, Aktivis Sosial dan Kemanusiaan”. Penghargaan yang diberikan oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Tangsel kepada Hj. Airin Rachmi Diany cukup beralasan, karena kiprah Hj. Airin Rachmi Diany dalam bidang sosial dan kemanusiaan di Kota Tangsel bukanlah sekedar ucapan belaka, akan tetapi bukti nyata. Sudah banyak aktivitas sosial dan misi kemanusiaan yang dijalankan  antara lain menggiatkan program donor darah kepada masyarakat, menggagas gerakan penghijauan (go green) Gapura Tangsel, mendirikan Taman Bacaan Masyarakat di setiap Kecamatan se-Kota Tangsel, membina majelis taklim, posyandu, koperasi, dan masih banyak lagi kegiatan sosial dan kemanusiaan yang digelutinya.

Tokoh Peduli Lingkungan

Mahasiswa Program Study Teknik Arsitektur Teknologi Indonesia (ITI) Serpong memberikan penghargaan kepada Hj Airin Rachmi Diany sebagai tokoh peduli Lingkungan Tangsel. Penghargaan ini diberikan atas kepedulian Airin terhadap isu-isu lingkungan hidup yang dibuktikan oleh gerakan dan program-programnya yang telah dirasakan langsung oleh masyarakat.

Penghargaan tersebut berupa pemberian karikatur gambar wajah Airin dengan tata ruang Kota Tangsel serta sebuah penunjuk arah yang bertuliskan “Tangsel” pada acara Talk show “Arsitektur bersinergi dengan Lingkungan, Sosial, Pendidikan, dan Seni,” di Selasar Kampus ITI, Gedung F dan G, Serpong pada 23 Juli 2010.

Ketua penyelenggara talkshow, Rayhan, mengatakan, kepedulian Airin terhadap lingkungan di Kota Tangsel sudah tidak bisa diragukan lagi. Karena itu, menurut Rayhan, sosok Airin sangat pantas dijadikan Tokoh Lingkungan. Berbagai langkah nyata kepedulian Airin untuk melakukan penataan di Kota Tangsel ditunjukkan dengan program-program yang berwawasan lingkungan seperti program  Let’s Go Green, Gerakan Penanaman Seribu Pohon, daur ulang sampah, dan program penghijauan lainnya.

“Ibu Airin selama ini konsisten menata Tangsel dengan mengangkat isu lingkungan melalui program-programnya yang nyata, oleh karena itu kami memberikan karikatur tokoh peduli lingkungan ini sebagai wujud penghargaan kami kepada beliau,” ungkap Rayhan.

Sementara itu, Airin mengucapkan banyak terima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh Mahasiswa ITI itu sembari mengatakan bahwa apa yang dilakukannya selama ini, terutama dalam persoalan lingkungan hanya semata-mata untuk menata Tangsel agar lebih baik dan itu bentuk pengabdiannya kepada masyarakat.

“Kota Tangsel berpotensi menjadi suatu Kota Pemukiman yang mandiri, damai, dan sejahtera, oleh karena itu ke depan harus disiapkan peraturan-peraturan daerah yang lebih terkonsep tentang kelayakan suatu lokasi untuk dijadikan kawasan pemukiman, apakah sesuai rancangan awal dari arsitekturnya ataukah tidak.” ujar Airin.

Selain itu, menurut Airin, dalam pembangunan fisik harus juga memperhatikan faktor sosial budaya. Ke depan di Tangsel harus dibangun identitas setiap tempat agar warga dapat memiliki keterikatan emosi yang kuat terhadap Tangsel. “Identitas yang kuat akan menghasilkan keterikatan emosional yang diperlukan untuk menggerakkan partisipasi warga dalam pembangunan Tangsel. Jadi, di Tangsel ke depan harus ada suatu tempat yang menjadi identitas Kota Tangsel,” tandas Airin.

Memperoleh Kartini Award 2010

Reinkarnasi dari sosok perjuangan Raden Ajeng Kartini saat ini telah menjadi kenyataan. Tembok-tembok feodalisme telah roboh. Wanita-wanita Indonesia yang dulu terpasung oleh adat istiadat, saat ini menjelma sebagai wanita yang kreatif dan mempunyai kesempatan lebar untuk melangkah sejajar dengan kaum pria. Aura Kartini modern itu kini terpancar dari seorang tokoh wanita yang bernama Hj Airin Rachmi Diany.

Airin adalah seorang tokoh yang aktif diberbagai bidang dari mulai kesehatan, pendidikan, kemiskinan hingga lingkungan. Proaktifnya sosok Kartini modern itu mempunyai semangat yang tulus untuk membangun wilayah daerah otonom baru seperti Kota Tangsel.

Bila direview dari kalimat “Door Duistermis tox Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang), itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Pertama kali Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir. Di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Secara fitrohnya tetap butuh seorang pemimpin yaitu kaum laki-laki. Dengan Adanya persamaan hak wanita dengan pria banyak lahirlah Kartini-Kartini modern yang kemampuannya mulai diperhitungkan menjadi sangat indah, bahwa saat ini kaum wanita bisa memutuskan sendiri pilihannya dalam pengembangan dirinya serta masyarakat.

Demikian juga makna emansipasi mestinya membuat wanita lebih dihormati dan dihargai sesuai dengan fitrohnya karena dari rahim seorang wanita atau kartini akan lahir generasi yang tangguh yang akan menjadikan negeri ini, negeri yang aman dan nyaman bagi semua manusia.

Selain itu, saat ini juga telah banyak wanita Indonesia seperti Airin yang memberi inspirasi bagi kaumnya di Kota Tangsel. Melihat hal tersebut dan dalam rangka memperingati hari lahir RA Kartini, wajarlah bila nama Airin Rachmi Diany dimasukan dalam nominator peraih penghargaan Kartini Award 2010.

Ketokohan pejuang kaum perempuan Kartini menjadi teladan dan selalu diperingati setiap bulan April. Berbagai acara yang dilakukan dan menjadikan Kartini sebagai inspirasi. Termasuk memberikan penghargaan khusus kepada tokoh perempuan yang berlangsung di hotel Twin Plaza, Jakbar pada 10 April 2010.

Penghargaan itu diberikan International Human Resources Development Programme (IHRDP) dan Kharisma Indonesia Foundation. Sebanyak dua puluh dari jumlah 185 tokoh perempuan berprestasi mendapat penghargaan Kartini Indonesia 2010. Penerima penghargaan itu dinilai dari prestasi dan berperan dalam pembangunan di berbagai bidang.

Di antara nama yang mendapat penghargaan itu yakni Gubernur Banten Ratu Atut Choisyah. Atut merupakan gubernur satu-satunya di Indonesia yang saat ini masih aktif menjabat dan melakukan berbagai program pembangunan Banten. Selain itu penghargaan lainnya juga diberikan kepada Ketua PMI Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany yang turut aktif mengerakkan aksi sosial donor darah di masyarakat.

Menurut salah satu mantan Presedium Kota Tangsel, Zarkasih Noor, perempuan adalah sosok yang penuh dengan cita-cita dan harapan baru. Perempuan juga harus mempunyai karier dan jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Seperti halnya Airin, sambung mantan Menteri di era Gusdur itu, dengan fenomena Kota Tangsel yang memiliki permasalahan sampah memiliki ide yang cemerlang untuk mendaur ulang sampah dengan memiliki manfaat ganda. Selain manfaat lingkungan tetap bersih dan asri, daur ulang juga bermanfaat secara ekonomi. “Itulah bukti perjuangan seorang Kartini modern,” tandasnya.

Hal senada dikatakan Muslih (34), ketua Pemuda Pancasila Kecamatan Kota Tangsel. Dia mengatakan sosok Airin menjadi inspirasi positif bagi gerakan pemuda yang ada di Kota Tangsel untuk bersatu dan membangun wilayah. “Hal itu membuktikan tidak hanya kaum laki-laki saja yang dapat tergerak akan tetapi kaum perempuan juga bisa berbuat sesuatu,” ungkapnya

Lantas apa pandangannya tentang Islam? Wanita yang menyelesaikan master-nya di bidang hukum pada usia 29 tahun itu,  menjelaskan, Islam adalah berserah diri, menjalani apa yang ada dengan ikhtiar sebaik-baiknya. Masing-masing makhluk-Nya memiliki ‘jalan’ sendiri.

“Apa yang saya jalani selama ini  adalah jalan yang diberikan-Nya kepada saya. Saya menganggapnya sebagai kesempatan untuk beribadah,” tuturnya. Baginya, Islam juga merupakan sebuah pedoman hidup untuk bisa mencapai apa yang menjadi cita-citanya, yaitu kebahagiaan  di dunia dan akhirat.

Penulis: Managing Editor pada Penerbit PT Pustaka Indonesia Press



Penghargaan

“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang
dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi menjadi seperti apa dia dengan
kerja kerasnya itu.”
John Ruskin, penulis (1819–1900), arsitek dan kritikus seni asal Inggris

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.